Isolasi Setengah Hati Saat Pandemi

Saat video call WFH akhir pekan kemaren, seorang kawan di ibu kota bertanya, “Bro gimana Malang, aman? Sepi juga nggak kayak di sini?”

Jawabannya mungkin bisa diwakili oleh foto ini:

Malang masih ramai. Kondisi sepi di Malang hanya terasa di beberapa tempat saja, seperti kawasan perkantoran dan pendidikan, karena memang sudah menerapkan WFH dan belajar di rumah. Kondisi serupa mungkin juga terjadi di kota-kota lain.

Bagaimana dengan suasana di sekitar pasar-pasar tradisional? Masih ramai seperti biasa. Sebagian orang memang pakai masker, tapi suasana “normal” bisa kita rasakan, seperti tidak ada ancaman serius dari virus ini.

Suasana self distancing dalam kondisi pandemi corona ini memang sangat kontras bedanya antara kota besar (ibu kota) dengan kota-kota kecil di daerah dan kabupaten.

Mayoritas ekonomi warga di daerah bergerak harian. Pedagang sayur, kuli bangunan, ojek online, dan sebagainya. Masyarakat disuruh diam di rumah, tapi pemerintah belum sampai ke tingkat teknis dalam memberikan solusi diam di rumah.

Problemnya sangat kompleks dan rumit, serumit mengurus negara kepulauan terbesar di dunia ini, sampai-sampai staf milenial kepresidenan pun harus terjun langsung bikin konten.

Setiap hari kita membaca berita virus corona yang makin mengkhawatirkan. Jumlah penderita positif terus bertambah, sementara rasio kematian kita sudah menjadi yang terbesar kedua di Asia, setelah China.

Belum selesai kekhawatiran kita pada angka-angka resmi dari pemerintah tadi, fakta baru di lapangan tak kalah ngeri. Jumlah pemakaman di Jakarta melonjak hampir dua kali lipat selama bulan Maret.

Situasi makin mengkhawatirkan karena mendekati puasa dan Lebaran. Wabah corona pun menghantui daerah-daerah yang kedatangan pemudik dari daerah episentrum Covid-19. Sampai-sampai Gubernur Jawa Barat mengirim pesan seperti ini:

Menjadi sebuah dilema karena mereka mudik bukan sepenuhnya kangen keluarga, tapi juga faktor ekonomi. Ketika sudah tak ada lagi kerjaan di kota dan biaya hidup terus berjalan, pulang kampung menjadi pilihan terakhir.

Kurang pas juga bila kita membandingkan penanganan Covid-19 di Indonesia dengan Singapura. Antar kota di Indonesia sendiri saja masih sangat kontras kondisinya. Bagaimana dengan daerah lain yang aksesnya tidak semudah di Jawa? NTT, Maluku, dan Papua misalnya.

Masyarakat di daerah pun banyak yang belum teredukasi dengan benar. Di Banyumas, warga menghadang mobil ambulans yang hendak memakamkan jenazah Covid-19. Bahkan setelah Bupati ikut menggali makam untuk dipindahkan pun tetap mendapat penolakan dari warga. Situasi ini bisa memicu konflik sosial dan horisontal.

Miris memang, hal ini tak seharusnya terjadi bila ada komunikasi dan edukasi yang benar. Dan yang terjadi sekarang adalah inisiatif sendiri-sendiri, gotong royong. Jalan kampung ditutup. Pintu masuk perumahan diportal. Lockdown sendiri-sendiri mulai tingkat RT dan RW.

Memang, selalu ada inovasi di tengah kesulitan. Beberapa tukang sayur tak lagi keliling dari rumah ke rumah karena mulai menggunakan smartphone. Pasar tradisional mulai menggandeng aplikasi. Alfamart pun membuka layanan delivery.

Tapi sampai kapan kita bisa bertahan work from home? Berapa lama sekolah dan kuliah bisa dilakukan lewat daring? Dua bulan, tiga bulan, enam bulan? Bagaimana kalau sampai enam bulan lagi virus ini belum hilang?

Tidak fair bila “perjuangan” orang-orang yang sudah work from home tadi sia-sia karena di luar sana sebagian besar masyarakatnya masih ignoran.

Di sinilah dibutuhkan kekompakan. Kita harus benar-benar melakukan isolasi mandiri dari diri sendiri dan lingkungan terkecil. Lalu tugas pemerintah untuk evaluasi apakah langkah yang dilakukan selama ini sudah efektif.

Himbauan dan anjuran itu bagus, masyarakat yang sadar diri itu pun mulia. Tapi sudah jadi tugas negara untuk hadir melindungi warganya melalui payung hukum dan aturan yang jelas dan tegas dalam situasi pandemi seperi ini.

Kita sedang berpacu dengan waktu menghadapi virus yang bisa bermutasi. Jangan sampai herd immunity menjadi jalan terakhir yang dipilih bangsa ini.

(foto: thejakartapost.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: